sumutone.com – Kepergian dr. Andre Budi, M.Biomed., yang merupakan dosen tetap Fakultas Kedokteran Universitas Prima Indonesia (Unpri), pada Kamis (9/4/2026), menyisakan duka mendalam bagi keluarga.
Pasca kematian tersebut, muncul kekecewaan dari pihak keluarga terhadap penanganan medis yang diduga tidak profesional oleh oknum dokter spesialis bedah saraf yang menanganinya.
Diketahui, dr. Andre Budi mengalami stroke perdarahan otak sejak Selasa (7/4/2026) malam.
Ia kemudian dibawa ke Rumah Sakit Royal Prima dalam kondisi tidak sadarkan diri.
Penanganan medis pun dilakukan, operasi bedah saraf dilakukan terhadap Andre, Rabu (8/4/2026) dini hari sekitar pukul 00.00 WIB oleh dokter berinisial AM, spesialis bedah saraf.
Namun, setelah operasi yang berlangsung selama sekitar dua jam, kondisi dokter Andre tidak menunjukkan perbaikan. Bahkan, alat External Ventricular Drain (EVD) disebut tidak berfungsi dengan baik.
Melihat kondisi yang semakin memburuk pascaoperasi, keluarga berupaya mencari penanganan lain. Akhirnya, pada Kamis (9/4/2026), dokter Andre dibawa ke RS Siloam Medan untuk mendapatkan perawatan lanjutan.
“Namun kondisinya sudah sangat parah, dan menurut dokter di sana, kondisi Andre sudah 90 persen tidak bisa lagi diselamatkan,” ujar sumber yang enggan disebutkan namanya, Jumat (17/4/2026).
Sumber tersebut juga menyebutkan bahwa dokter AM yang melakukan operasi diduga sudah tidak layak menangani pasien secara langsung.
“Karena beliau saat ini sudah menjadi konsultan, tetapi masih menangani operasi tersebut. Jadi ada dugaan malapraktik jika dilihat dari kondisi itu,” ungkapnya.
Sementara itu, Ka Humas Unpri Devi Helmi yang dikonfirmasi sekaitan kabar tersebut di atas membenarkan soal kepergian dokter Andre.
Devi Helmi membenarkan bila dokter Andre merupakan dosen di Fakultas Kedokteran (FK) Unpri. “Iya (dosen) benar,” katanya Jumat (17/4/2026). (*)















