sumutone.com — Alga Pratama Bangun, 18 tahun, siswa kelas XII 3 SMAN 1 Medan, berhasil menembus beasiswa penuh ke luar negeri. Ia bahkan menjadi orang pertama di keluarganya yang akan melanjutkan pendidikan hingga ke mancanegara, dengan harapan mampu mengangkat derajat keluarga.
“Sejak kelas 10 bahkan sebelum masuk SMA, saya sudah memutuskan ingin kuliah ke luar negeri. Dari SMP memang sudah suka traveling, jadi sudah tertanam keinginan itu,” ujarnya, Sabtu (11/4/2026).
Perjalanan Alga tidak instan. Sejak awal SMA ia telah menyusun langkah secara sistematis. Di kelas 10, ia mulai memperkuat kemampuan bahasa Inggris secara otodidak, aktif dalam proyek sosial, serta mengumpulkan berbagai prestasi akademik dan non-akademik. Ia menyadari kampus luar negeri tidak hanya menilai nilai akademik, tetapi juga dampak yang diberikan kepada masyarakat.
Memasuki kelas 11, persiapan siswa asal Labuhanbatu Selatan itu semakin intens. Ia mulai fokus belajar IELTS dan mempersiapkan SAT, yang hampir sama seperti versi SNBT untuk luar negeri. Di fase ini pula, ia mulai melakukan riset mendalam terkait universitas, negara tujuan, hingga berbagai skema beasiswa.
“Yang paling berat itu sebenarnya bukan dapat Letter of Acceptance, tapi mendapatkan beasiswanya. Itu yang jadi pressure terbesar,” katanya.
Alga juga secara aktif mencari informasi dari para penerima beasiswa sebelumnya. Ia menghubungi alumni, meminta review esai, hingga belajar menyusun curriculum vitae dan motivational letter. Proses pendaftaran dimulai sejak pertengahan 2025 dan memakan waktu lebih dari setengah tahun hingga akhirnya ia menerima hasil.
Usahanya berbuah manis. Alga berhasil memperoleh beasiswa penuh dari UWC Indonesia yang bekerja sama dengan pemerintah Singapura. Ia akan menempuh pendidikan selama dua tahun di Singapura, sebelum melanjutkan studi S1 di Amerika Serikat.
“Alhamdulillah, saya dapat beasiswa penuh. Dua tahun di Singapura, lalu lanjut ke Amerika sampai tamat S1,” tuturnya.
Selain itu, Alga juga mencoba mendaftar ke berbagai universitas lain di dunia, seperti Australia dan Inggris, bahkan berencana mencoba ke Oxford. Namun, ia mengakui tidak semua proses berjalan mulus.
Di balik pencapaiannya, terdapat dinamika keluarga yang turut mewarnai perjuangannya. Alga mengaku sempat menghadapi kekhawatiran dari sang ayah, terlebih setelah ibunya meninggal dunia pada 2024 lalu. Sebagai anak laki-laki satu-satunya, kepergiannya ke luar negeri menjadi hal yang berat bagi keluarga.
“Orang tua pasti ada rasa khawatir, seperti nanti makan bagaimana, siapa yang mengurus. Tapi alhamdulillah tetap mendukung, walaupun ada kesedihan,” ucap Alga.
Bagi Alga, keputusan untuk melanjutkan studi ke luar negeri bukan sekadar mengikuti tren atau fear of missing out (FOMO). Ia menegaskan langkah tersebut harus dilandasi kesiapan menghadapi risiko dan komitmen yang kuat.
“Kalau berani ambil langkah ke luar negeri, harus siap dengan segala risikonya. Ini bukan soal keren-kerenan, tapi soal kesiapan dan tujuan,” katanya.
Ke depan, Alga berencana melanjutkan studi hingga jenjang S2 dan S3. Meski belum memastikan apakah akan kembali ke Indonesia, ia membuka kemungkinan tersebut di masa depan.
“Untuk sekarang belum terpikir pasti apakah akan kembali atau tidak. Tapi kalau suatu saat merasa harus pulang untuk memajukan daerah, tentu saya akan kembali,” ujarnya. (ril)















